MOTIVATION LETTER : To My Youth


 

                Pernah nggak sih, di suatu waktu kamu ngerasa sedih tanpa alasan yang jelas? Tiba-tiba kamu merasa orang-orang disekitar kamu sibuk berprogres dan sangat kompetitif, sementara kamu stuck di tempat yang sama. Kamu tertinggal jauh dari mereka. Karena, ya, beberapa bulan belakangan ini aku merasakan hal itu.

                Aku sedang mengalami transisi masa remaja menuju masa dewasa awal. Namun, pikiran menjadi dewasa itu entah kenapa membuatku takut. Dunia orang dewasa itu terasa menakutkan. Di usiaku yang sudah 19 tahun (hampir kepala dua ini), pikiranku tentang masa depan masih abu-abu. Yang kupikirkan, aku hanya ingin menjadi sukses. Bagaimana caraku meraih kesuksesan itu?


Nggak tahu.


Aku merasa, aku nggak pernah melakukan sesuatu dengan mengerahkan 100% kemampuan yang aku punya. Aku orang yang setengah-setengah, namun punya idealisme yang setinggi langit. Ketika aku menatap orang-orang sekitarku, aku merasa sangat kecil. Tidak ada yang patut di banggakan dari diriku. Pada akhirnya, hal yang bisa kulakukan hanya merenung dan menangis, menyalahkan ketidakmampuan atas diri sendiri dan juga keadaan.

Menjadi manusia dengan sensivitas tinggi sama sekali tidak menguntungkan. Mulutku diam, tapi dalam pikiran aku sibuk berdebat dengan diriku sendiri. Mengenai pendapat orang lain yang harusnya tak kudengarkan, tentang perasaan orang lain yang harusnya pula bukan menjadi prioritas tertinggiku. Karena harusnya diriku sendiri yang perlu mendapat perhatian. Aku selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarku, dan Ketika aku tidak dapat memenuhinya lagi,rasa benci terhadap diriku sendiri mulai berkembang perlahan-lahan. Menggerogoti diriku perlahan lahan.

Di suatu waktu aku pernah berkaca, mengeluhkan betapa jeleknya aku. Kakakku, adikku, semua dikeluargaku punya wajah yang rupawan. Saat Sekolah Dasar pun, bahkan ada yang mengolok salah satu bagian tubuhku, “Bibir kamu dower banget,” katanya. Ucapan itu tak lebih di lontarkan selama 5 detik, namun menghantuiku selama bertahun-tahun. Rasa benci terhadap diriku sendiri sangat besar kala itu. Kemudian aku menyalahkan keadaan dan Tuhan;

 

Kenapa aku tidak bisa secantik mereka?

 

Rasa tidak percaya diri itu berjalan beriringan dengan masa mudaku. During those beautiful days, I was in pain. Aku menjadi orang yang sangat gugup ketika berhadapan dengan orang banyak. Aku sangat takut ketika menjadi pusat perhatian. Aku membatasi orang-orang yang ada disekitarku—karena aku takut kembali terluka. Namun pada akhirnya aku malah lebih membenci diri sendiri karena tidak bisa menerima cinta orang lain yang diberikan kepadaku. Aku terlalu malu untuk terlihat lemah, pada teman-temanku bahkan orangtuaku. Ayah dan Ibuku mengandalkanku. Mereka menganggapku seorang anak perempuan yang hebat dan kuat. Namun pada kenyataannya, aku ingin menangis dalam pelukan mereka, mengatakan semua hal berjalan tidak baik. Dunia terasa begitu gelap dan aku terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Namun kata orang, waktu adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Hal itu ternyata berlaku padaku. Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa cantik itu bukan hanya soal fisik semata. Aku menyadari hal paling penting adalah mencintai dirimu sendiri dan percaya bahwa suatu saat nanti, kita bisa bersinar dengan cara kita masing-masing. Perlahan, aku mulai menerima kekurangan yang ada di dalam diriku. Walaupun tidak semudah mengucapkannya, namun nyatanya perlahan aku berhasil menemukan jawabannya; the one who should love, is yourself.

 

‘maybe after all of the pain, I could shine a light even is short.’ —Bolbbagan4



 

p.s untuk diriku yang sekarang, kamu hebat. terima kasih sudah bertahan sampai sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Esai : Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Z.