Esai : Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Z.

Mental health matters


            Tanggal 10 Oktober nanti, kita akan memperingati World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Dunia. Apasih mental health itu? Seberapa penting kesehatan mental itu bagi kita?

            Dikutip dari situs Direktorat Promosi Kesehatan, Kesehatan mental merupakan suatu kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Ternyata pandangan tentang sehat tidak hanya sebatas pada kesehatan tubuh saja. Namun kesehatan jiwa juga. Jika tubuh kita sedang sakit, terkena diare misalnya, pasti langkah pertama yang kita lakukan adalah membeli obat di apotek atau berobat ke dokter. Hal itu berlaku pula untuk kesehatan mental. Jika kita sedang dalam kondisi yang buruk; kita merasakan berbagai macam emosi, depresi, tertekan, maka kita juga harus ‘mengobatinya’ dengan pergi mengkonsultasikannya ke psikolog.

Namun, di Indonesia sendiri kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mental masih tergolong rendah. Stigma yang mengganggap orang yang pergi ke psikolog adalah orang gila masih melekat di mindset orang Indonesia. Kurangnya edukasi mengenai kesehatan mental menyebabkan orang yang sudah memiliki gejala mental yang kurang baik, cenderung menutup diri, enggan mengakui bahwa dia sedang tertekan atau depresi.

Di zaman yang sudah serba canggih ini, media sosial banyak di gunakan oleh para remaja Generasi Z. Kebebasan berpendapat dalam media sosial digunakan para remaja untuk mengekspresikan diri mereka. Namun hal itu kemudian disalahgunakan untuk perbuatan perundungan di dunia maya (cyberbullying). Orang-orang bebas memaki dan mengolok-olok orang lain dengan identitas yang bisa disamarkan menjadi anonim. Apalagi kita para remaja sedang melakukan transisi dari masa remaja menuju tahap awal dewasa. Di masa ini, kita mulai mencari jati diri; siapakah sebenarnya kita; mau dibawa kemana hidup kita kedepannya. Di masa ini, keputusan-keputusan penting dibuat untuk menentukan arah hidup kita kedepannya. Seringkali hal itu membuat para remaja Generasi Z mengalami tekanan dari berbagai hal yang kemudian mempengaruhi kesehatan mental mereka. Pada fase ini, kita bisa saja rentan untuk merasa depresi, marah tidak beralasan, dan kesedihan secara tiba-tiba.  Mental support sangat di perlukan di masa krisis ini. Namun, sering kali orang-orang, bahkan masyarakat kota yang sudah tahu terhadap kesehatan mental ini menganggap remeh orang dengan kecenderungan kesehatan mental yang sedang buruk.

Seperti misalnya ada kasus dimana individu yang mental-nya sedang tidak baik kemudian berkeluh kesah kepada orang terdekat, namun malah mendapat cibiran seperti:

 

 

“Alah gitu doang udah ngeluh, aku malah...”

“Kamu itu kurang ibadah, makanya…”


 

Hal seperti itu menjadikan individu tersebut makin merasa rendah diri dan merasa tak berarti. Mereka hanya ingin di dengarkan, untuk meluapkan emosi yang sudah bertumpuk dalam dirinya untuk di keluarkan. Hal itu berdampak pada psikis yang semakin tertekan yang dapat menimbulkan kecenderungan mengalami depresi.

Ada juga fenomena toxic positivy, yaitu saat kata-kata semangat malah terasa terdengar menyakitkan. Misalnya, kamu sedang dalam keadaan tidak baik, tekanan dari kuliah, masalah pertemanan di lingkungan kuliah, dsb. Kamu sedang berada dititik terendah dan merasa harus meluapkan semua emosi itu. Lalu kamu memutuskan untuk bercerita kepada teman masa SMA mu, tapi bahkan saat kamu belum benar-benar selesai bercerita, mereka melontarkan ucapan seperti :

 


“Jangan nyerah, ya! Kamu harusnya…”

“Semangat, semua ada hikmahnya kok..”

“Stop mikir negative deh, mungkin mereka…”


 

Mungkin bagi sebagian orang, kalimat tersebut entah kenapa terdengar menyakitkan. Urban Dictionary menyebut bahwa kalimat seperti "Kalau kamu tetap positif, kamu akan mengatasi segala kesulitan yang ada" mengabaikan perasaan sesungguhnya dari orang yang sedang bermasalah, seolah-olah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan orang tersebut tidak penting bagi lawan bicaranya.

Mengapa dorongan untuk tetap positif bisa berdampak negatif? Psikater, dr. Jiemi Ardian mengatakan, “ Tidak semua orang butuh disemangati saat mereka bercerita soal perasaan negatif atau pengalaman buruknya. Sering kali, yang di sekeliling mereka mengatakan hal-hal yang s


eakan-akan positif, padahal bukan itu yang sedang dibutuhkan orang yang bermasalah
.” Luapan emosi itu yang perlu di keluarkan. Setiap emosi itu punya pesan, baik itu marah, sedih, bahagia, atau takut. Kalau emosi-emosi itu dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi negatifnya menumpuk, kemudian bisa memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis.

Saat seseorang yang sedang tertekan memaksakan diri untuk tetap positif, bahkan mungkin mencoba pura-pura positif, kecenderungan yang terjadi adalah seseorang menyalahkan diri sendiri. Perasaan negative dalam diri makin menumpuk dan jika tidak ditangani dengan tepat, maka bisa mengakibatkan depresi berat dengan psikomatis dan kecenderungan bunuh diri yang tinggi.

Oleh karena itu, perlu untuk mendorong edukasi masyarakat atas kesadaran kesehatan mental, bahwa Kesehatan mental bukanlah hal yang bisa disepelekan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik atau jasmani. Masyarakat dan orang sekitar juga harus memiliki kepekaan yang tinggi dan empati ketika menghadapi orang yang sedang dalam mental tidak stabil.  Lebih dari itu semua, kesadaran diri sendiri punya peran sangat besar, karena kitalah yang mengalami dan merasakan emosi apa yang sedang kita rasakan. Kita sebagai individu harus menyadari, bahwa ketika merasakan emosi yang tidak stabil, karena tekanan atau trauma masa lalu, tidak ada salahnya untuk meluapkan itu semua. Meskipun orang lain mungkin tidak akan pernah mengerti, tidak apa-apa.

 

 Just because no one else can heal or do your inner work for you, that doesn’t mean you can, should, or need to do it alone. 


 

Referensi sumber :

http://news.unair.ac.id/2019/10/10/paradigma-kesehatan-mental/

https://www.cigna.co.id/health-wellness/anak-muda-dan-kesehatan-mental

https://www.kompasiana.com/naylafara/5df19737097f3640b50c4692/pentingnya-menjaga-kesehatan-mental-dalam-diri-setiap-mahasiswa

https://tirto.id/toxic-positivity-saat-ucapan-penyemangat-malah-terasa-menyengat-dhLM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MOTIVATION LETTER : To My Youth